Senin, 3 Agustus 2026 EDISI No. 0095 Wartatangerang.my.id · GRATIS

Infrastruktur · Tangerang Utara

Tangerang Utara dan Bandara Soetta: Sejauh Mana Akses Sudah Berkembang?

Progress pengembangan kawasan Tangerang Utara dilihat dari sisi konektivitas ke Bandara Soekarno-Hatta — apa yang sudah berjalan, apa yang masih tertunda.

Oleh Sari Lestari · Minggu, 16 Agustus 2026 · 6 menit baca

Kawasan Tangerang Utara menyimpan paradoks yang belum terselesaikan: secara geografis, ini adalah area yang paling dekat dengan salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara, namun secara infrastruktur, konektivitasnya ke gerbang penerbangan internasional itu masih jauh dari optimal.

Per pertengahan 2026, sejumlah inisiatif pengembangan akses sedang berjalan — beberapa sudah memasuki tahap konstruksi, sebagian masih dalam kajian. Namun bagi warga dan pelaku usaha di Kecamatan Neglasari, Benda, Batuceper, dan Karangtengah, gap antara potensi dan realitas masih terasa setiap hari di kemacetan pagi hari menuju Jalan Husein Sastranegara.


Mengapa Akses ke Soetta Menjadi Prioritas Kawasan Ini

Bandara Internasional Soekarno-Hatta bukan sekadar infrastruktur penerbangan — ia adalah motor ekonomi regional yang, berdasarkan estimasi dari berbagai kajian, diperkirakan berkontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap ratusan ribu lapangan kerja di kawasan sekitarnya.

Tangerang Utara berada di posisi strategis yang unik: wilayah ini berbatasan langsung dengan perimeter barat dan selatan kawasan bandara. Kecamatan Benda bahkan sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan pagar perimeter bandara. Artinya, secara teori, Tangerang Utara seharusnya menjadi kawasan yang paling diuntungkan dari keberadaan bandara tersebut.

Kenyataannya berbeda. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai laporan daerah, tingkat kemiskinan dan keterbatasan akses layanan di beberapa kelurahan di Kecamatan Neglasari dan Batuceper masih relatif tinggi dibanding kawasan lain di Kota Tangerang yang justru lebih jauh dari bandara. Sumber dari kalangan pemerhati tata kota menyebut ini sebagai “efek bayangan bandara” — kawasan yang secara fisik dekat dengan infrastruktur besar, tapi tidak mendapat limpahan manfaat ekonominya karena konektivitas yang buruk.


Kondisi Akses Saat Ini: Apa yang Ada, Apa yang Kurang

Secara eksisting, ada tiga koridor utama yang menghubungkan kawasan Tangerang Utara dengan Bandara Soetta:

Koridor Tol Sedyatmo adalah akses paling cepat dan paling sering digunakan oleh penumpang pesawat dari wilayah Jakarta dan Tangerang bagian selatan. Namun bagi warga Tangerang Utara yang tidak memiliki kendaraan pribadi, tol ini tidak banyak membantu — tidak ada akses publik langsung dari kawasan permukiman ke pintu tol yang terjangkau.

Jalan Husein Sastranegara adalah arteri utama yang melintas di Kecamatan Benda dan menghubungkan langsung ke area pintu masuk kargo dan terminal bandara. Per laporan lapangan, ruas ini mengalami penumpukan kendaraan berat — termasuk truk kargo bandara dan kendaraan logistik — yang kerap memperlambat arus secara signifikan di jam-jam tertentu. Kapasitas jalan ini sudah tidak sebanding dengan volume kendaraan yang melintas.

Jalan Daan Mogot berfungsi sebagai jalur alternatif sekaligus penghubung ke kawasan Kalideres dan pintu masuk bandara dari arah timur. Proyek pelebaran sebagian ruas Daan Mogot di area Batuceper dilaporkan sudah masuk dalam daftar prioritas DPUPR Kota Tangerang, namun belum ada konfirmasi jadwal konstruksi yang mengikat per saat ini.

Transportasi publik ke bandara dari Tangerang Utara saat ini masih sangat terbatas. Kereta Bandara yang beroperasi dari Stasiun Batu Ceper secara teknis adalah pilihan yang ada, namun konektivitas dari permukiman Tangerang Utara ke Stasiun Batu Ceper sendiri masih bergantung pada ojek atau angkot dengan rute tidak langsung — sebuah titik putus yang membuat moda ini kurang diakses oleh warga kawasan.


Proyek dan Rencana yang Sedang Berjalan

Berdasarkan informasi dari sumber-sumber dinas dan laporan perencanaan yang beredar, beberapa inisiatif sedang dalam proses:

Penataan persimpangan dan manajemen lalu lintas di Neglasari menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam forum koordinasi antara Dinas Perhubungan Kota Tangerang dan pengelola bandara. Diperkirakan beberapa persimpangan kritis di sekitar Jalan Moh. Toha dan akses ke Perimeter Utara bandara akan mendapat rekayasa lalu lintas dalam waktu dekat, meski detail teknisnya belum dipublikasikan.

Kajian feeder transit ke Stasiun Batu Ceper juga disebut-sebut dalam dokumen perencanaan transportasi Kota Tangerang untuk periode 2025–2030. Konsepnya adalah rute feeder yang menjangkau kelurahan-kelurahan padat di Kecamatan Benda dan Neglasari, lalu terhubung ke stasiun kereta bandara. Ini akan menjadi terobosan signifikan jika terealisasi, namun menurut sumber dinas yang tidak bersedia disebutkan namanya, pendanaan dan koordinasi lintas instansi masih menjadi hambatan utama.

Pengembangan kawasan industri dan logistik di sekitar perimeter barat bandara juga membawa implikasi terhadap kebutuhan infrastruktur akses. Beberapa lahan di Kecamatan Benda dan sekitar Jalan Perimeter dikabarkan sedang dalam proses kajian peruntukan, dengan fokus pada pergudangan modern dan fasilitas cold chain untuk mendukung operasional kargo udara. Jika ini terealisasi, tekanan pada jaringan jalan eksisting akan semakin besar — sehingga perbaikan akses bukan lagi opsional, melainkan prasyarat.


Dampak bagi Warga dan Pelaku Usaha Lokal

Diskusi soal akses bandara sering kali berlangsung di level makro — investasi, logistik, konektivitas regional. Tapi di tingkat lokal, dampaknya jauh lebih konkret.

Bagi warga yang bekerja di kawasan bandara — dari petugas ground handling hingga pedagang di area komersial terminal — waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja adalah biaya hidup nyata. Tambahan waktu 30–60 menit setiap hari, menurut sumber dari komunitas pekerja bandara di Neglasari, berdampak langsung terhadap jam istirahat, biaya transportasi, dan kualitas waktu bersama keluarga.

Bagi pelaku UMKM yang bergantung pada lalu lintas kawasan — warung, bengkel, jasa laundri, toko kelontong di sepanjang Jalan Husein Sastranegara — kemacetan membawa dilema: ramai kendaraan berarti potensi pelanggan, tapi juga berarti akses masuk yang sulit dan parkir yang semakin tidak tersedia.

Sementara itu, pelaku usaha skala menengah di sektor logistik menyebut ketidakpastian infrastruktur sebagai faktor yang mempersulit perencanaan ekspansi. Menurut sumber dari asosiasi pengusaha logistik Tangerang, beberapa calon investor memilih menunda komitmen sambil menunggu kejelasan rencana tata ruang dan infrastruktur di kawasan ini.


Yang Perlu Diperhatikan ke Depan

Beberapa perkembangan layak dipantau dalam bulan-bulan mendatang:

Pertama, kejelasan status proyek pelebaran Jalan Husein Sastranegara dan rencana manajemen lalu lintas di sekitar perimeter bandara. Ini adalah intervensi paling langsung dan paling berdampak bagi warga.

Kedua, perkembangan kajian feeder ke Stasiun Batu Ceper. Jika kajian ini berhasil melewati tahap pendanaan dan mendapat komitmen dari operator, ini akan menjadi perubahan paling signifikan dalam aksesibilitas publik kawasan.

Ketiga, koordinasi antara Pemerintah Kota Tangerang, AP II selaku pengelola bandara, dan Kementerian Pekerjaan Umum terkait infrastruktur yang melintas antara kawasan kota dan kawasan bandara — yang secara administratif kerap jatuh di celah kewenangan antar-instansi.

Kawasan Tangerang Utara memiliki semua syarat untuk menjadi area pengembangan yang dinamis: lokasi strategis, lahan yang masih tersedia di beberapa titik, dan ekosistem pendukung yang sudah ada. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur akses yang sepadan dengan potensi tersebut.


CATATAN: Artikel ini berdasarkan data dan laporan yang tersedia per tanggal publikasi. Beberapa informasi terkait rencana proyek belum mendapat konfirmasi resmi dari instansi terkait dan dapat berubah seiring perkembangan kebijakan. Angka-angka yang disebut merupakan estimasi berdasarkan laporan yang tersedia dan tidak bersifat final.