Ekonomi · Pasar Lama
Revitalisasi Pasar Lama Tangerang: antara pelestarian dan modernisasi
Rencana revitalisasi Pasar Lama Tangerang memunculkan perdebatan: modernisasi fisik vs pelestarian identitas kawasan pecinan berusia ratusan tahun.
Di sepanjang Jalan Kisamaun, pedagang kain membuka lapak sebelum matahari benar-benar naik. Di seberang klenteng Boen Tek Bio yang berdiri sejak abad ke-18, aroma kopi dan gorengan dari warung pojok sudah menguar sejak pukul lima pagi. Pasar Lama Tangerang hidup dengan ritmenya sendiri — ritme yang sudah berjalan selama ratusan tahun, jauh sebelum kota ini bernama Tangerang seperti sekarang.
Kini, kawasan itu berada di persimpangan yang tidak mudah. Rencana revitalisasi yang digulirkan oleh pemerintah kota membawa harapan sekaligus kekhawatiran: infrastruktur yang sudah menua memang butuh pembaruan, tetapi modernisasi yang tidak terukur bisa menghapus justru hal-hal yang membuat Pasar Lama menjadi Pasar Lama.
Kawasan yang menanggung beban sejarah dan keluhan sehari-hari
Pasar Lama bukan sekadar nama administratif. Kawasan ini adalah inti dari pecinan Tangerang — komunitas Tionghoa-Betawi yang telah membentuk karakter kota ini sejak era kolonial. Klenteng Boen Tek Bio, ruko-ruko bergaya Tionghoa dengan pintu kayu bercat merah yang pudar, gang-gang sempit yang menyimpan toko herbal dan jasa sablon generasi ketiga — semua ini membentuk lanskap yang tidak bisa sekadar direplika jika sudah terlanjur dibongkar.
Namun di balik nilai historis itu, ada keluhan yang sudah lama menumpuk. Drainase yang meluap ketika hujan deras, trotoar yang tidak rata dan licin, pedagang kaki lima yang menguasai hampir seluruh lebar jalan sehingga lalu lintas berjalan tersendat, serta fasilitas sanitasi yang jauh dari standar layak. Berdasarkan laporan yang beredar dari kalangan paguyuban pedagang, kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan sistematis.
“Bukan kami tidak mau rapi,” kata seorang pedagang yang sudah tiga puluh tahun berjualan di kawasan ini — ia enggan disebut namanya. “Tapi kalau perbaikan hanya untuk difoto, lalu sebulan kemudian balik seperti semula, itu yang kami capek.”
Apa yang direncanakan, apa yang belum jelas
Berdasarkan dokumen perencanaan yang telah beredar dan keterangan dari sumber di dinas terkait, revitalisasi Pasar Lama diperkirakan mencakup beberapa komponen. Pertama, perbaikan infrastruktur dasar: drainase, paving jalan, dan instalasi sanitasi publik yang layak. Kedua, penataan sirkulasi kawasan, termasuk zona pedestrian dan pengaturan parkir yang selama ini menjadi sumber kemacetan kronis. Ketiga, penataan fasad bangunan dengan pendekatan yang — setidaknya dalam pernyataan resmi — diklaim akan mempertahankan karakter arsitektur historis kawasan.
Yang belum jelas adalah detail teknisnya. Belum ada dokumen desain final yang dipublikasikan untuk dapat diakses publik. Anggaran yang disebut-sebut beredar di kisaran Rp 45–60 miliar, namun angka ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pejabat terkait. Timeline konstruksi juga masih simpang siur: beberapa sumber di lingkungan dinas menyebut target kuartal keempat 2026, sementara sumber lain menyebut awal 2027.
Yang lebih krusial, mekanisme relokasi sementara pedagang selama masa konstruksi belum diumumkan. Ini adalah titik kritis yang dalam pengalaman revitalisasi pasar di kota-kota lain — Pasar Atas Cimahi, Pasar Johar Semarang, Pasar Baru Bekasi — seringkali menjadi sumber konflik terbesar antara pemerintah dan pedagang.
Dilema yang tidak sederhana
Pengalaman dari kota-kota lain memberikan pelajaran yang tidak sepenuhnya menyenangkan. Revitalisasi yang berfokus pada estetika dan “instagrammability” kawasan sering berhasil mendatangkan pengunjung baru, tetapi secara perlahan menggeser karakter asli kawasan dan pelaku ekonominya.
Pasar yang semula hidup dari kesetiaan pelanggan lokal berubah menjadi destinasi wisata kuliner akhir pekan — sekilas terlihat ramai, tetapi omset pedagang asli justru stagnan karena pengunjung baru datang untuk foto, bukan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Kenaikan retribusi pasca-revitalisasi kemudian memukul pedagang yang margin-nya sudah tipis, sehingga lapak berganti tangan ke pelaku usaha baru yang lebih mampu membayar.
Di Pasar Lama Tangerang, risiko ini sangat nyata. Kawasan ini memiliki daya tarik sebagai destinasi kuliner dan heritage yang sudah terbentuk organik — Pasar Lama sudah ramai pada akhir pekan bahkan tanpa revitalisasi. Pertanyaannya adalah apakah revitalisasi akan memperkuat ekosistem yang sudah ada, atau justru mendistorsinya.
Kelompok yang mewakili komunitas pecinan Tangerang, berdasarkan informasi yang beredar, telah menyampaikan aspirasi agar proses perencanaan melibatkan konsultasi mendalam dengan pedagang eksisting, dengan jaminan tertulis bahwa hak berjualan pasca-revitalisasi tidak akan dicabut atau dinaikkan secara tidak proporsional.
Yang perlu dipantau ke depan
Ada beberapa perkembangan yang akan menentukan apakah revitalisasi ini akan menjadi kisah sukses atau mengulangi pola yang sudah sering terjadi di tempat lain.
Transparansi dokumen perencanaan. Publik dan komunitas pedagang berhak melihat desain final, anggaran rinci, dan timeline yang mengikat — bukan hanya narasi umum. Sampai dokumen ini dapat diakses, sulit bagi siapapun untuk menilai secara objektif apakah rencana revitalisasi ini memang mempertimbangkan kepentingan semua pihak.
Mekanisme relokasi sementara yang konkret. Berapa lama konstruksi berlangsung? Di mana pedagang ditempatkan sementara? Siapa yang menanggung biaya? Apakah ada kompensasi untuk penurunan omset selama masa pembangunan? Ini bukan pertanyaan teknis — ini adalah pertanyaan tentang keberpihakan.
Perlindungan terhadap tekanan gentrifikasi. Setelah kawasan diperbarui, nilai sewa bangunan akan naik. Tanpa regulasi yang melindungi pedagang lama, mekanisme pasar akan secara otomatis menggeser mereka. Beberapa kota telah mengadopsi skema retribusi bersubsidi atau hak prioritas sewa bagi pedagang eksisting — apakah Tangerang akan mengikuti model ini perlu mendapat jawaban.
Keterlibatan ahli pelestarian. Pasar Lama Tangerang bersinggungan langsung dengan situs-situs yang memiliki nilai warisan budaya. Setiap intervensi fisik — sekecil apapun — idealnya melibatkan konsultasi dengan ahli arkeologi dan pelestarian bangunan bersejarah.
Per laporan yang tersedia, proses konsultasi publik formal masih dalam tahap awal. Komunitas pedagang dan beberapa kelompok warga yang peduli terhadap warisan kota Tangerang masih menunggu forum resmi yang memberi mereka ruang berbicara secara substantif, bukan sekadar seremonial.
Pasar Lama sudah bertahan ratusan tahun. Pertanyaannya bukan apakah ia perlu diperbarui — hampir semua pihak setuju bahwa perlu. Pertanyaannya adalah apakah pembaruan itu akan dilakukan dengan hormat terhadap apa yang sudah ada, atau dengan cara yang mengulang kesalahan yang sama.
Artikel ini berdasarkan data dan laporan yang tersedia per tanggal publikasi. Beberapa informasi bersumber dari keterangan tidak resmi dan belum sepenuhnya dikonfirmasi oleh pejabat berwenang. Perkembangan lebih lanjut akan dilaporkan sesuai dengan informasi yang dapat diverifikasi.
Liputan Ekonomi
Ekonomi
Penghargaan UMKM Tangerang 2026: Kategori, Pemenang, dan Kriteria Seleksi
Pemkot Tangerang merilis daftar pemenang penghargaan UMKM 2026. Simak kategori yang dilombakan, kriteria seleksi, dan siapa yang berhasil meraih pengakuan tahun ini.
Ekonomi
Produk UMKM Tangerang Tembus Ekspor: Komoditas dan Jalurnya
Sejumlah produk UMKM Tangerang kini merambah pasar ekspor. Komoditas apa yang paling diminati dan bagaimana jalur distribusinya dibangun?
Ekonomi
Startup Tangerang Selatan: Peta Pendanaan dan Ekosistem 2024–2026
Dua tahun terakhir, ekosistem startup di BSD City dan Tangerang Selatan bergerak — dari tutupnya beberapa nama hingga masuknya pendanaan baru ke sektor tertentu.